HIPERTROPI
PROSTAT
Anatomi Dan Fisiologi
Spincter externa mengelilingi urethra
di bawah vesica urinaria pada wanita, tetapi pada laki-laki terdapat kelenjar
prostat yang berada dibelakang spincter penutup urethra. Prostat
mengekskresikan cairannya ke dalam urethra pada saat ejakulasi, cairan prostat
ini memberi makanan kepada sperma. Cairan ini memasuki urethra pars prostatika
dari vas deferens.
Prostat dilewati oleh :
a. Ductus ejakulatorius, terdiri dari 2
buah berasal dari vesica seminalis bermuara ke urethra.
b. Urethra itu sendiri, yang panjangnya 17 – 23 cm.
Secara otomatis besarnya prostat adalah sebagai berikut :
a. Transversal : 1,5 inchi
b. Vertical : 1,25 inchi
c. Anterior Posterior : 0,75 inchi
Prostat terdiri dari 5 lobus yaitu :
a. Dua lobus lateralis
b. Satu lobus posterior
c. Satu lobus anterior
d. Satu lobus medial
Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari besar, letaknya di bawah kandung
kemih.
Normal beratnya prostat pada orang dewasa diperkirakan 20 gram.
1.
Definisi
Hipertropi Prostat
adalah pembesaran dari kelenjar prostat yang disebabkan oleh bertambahnya
sel-sel glandular dan interstitial yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi
uretral dan gangguan aliran urine, dan kebanyakan terjadi pada umur lebih dari
50 tahun.
Hipertropi dari kelenjar periuretral ini kemudian mendesak jaringan prostat
yang asli ke penfer dan menjadi kasus
2.
Etiologi
Ada beberapa teori yang mengemukakan penyebab terjadinya hipertropi prostat
antar lain :
1. Teori sel Stem ( Isaacs 1984,1987 )
Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada
keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel yang mati.Keadaan ini disebut
Steady State. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproli
serasi lebih cepat sehingga terjadi hiperplasia kelenjar penuretral.
2. Teori Mc Neal ( 1987 )
Menurut Mc Neal pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang
letaknya sebelah proksimal dan spinater eksternal pada kedua sisi verumen tatum
di zona periuretral.
3. Teori Di Hidro Testosteron ( DHT )
Testosteron yang diohasilkan oleh sel leyding jumlah testosteron yang
dihasilkan oleh testis kira-kira 90 % dari seluruh produksi testosteron. Sedang
yang 10 % dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Sebagian besar testosteron dalam
keadaan terikat dengan protein dalam bentuk serum.
Bendung hormon ( SBH ) sekitar 20 % testosteron berada dalam keadaan bebas dan
testosteron bebas inilah yang memegang peranan peranan dalam proses terjadinya
pembesaran prostat testosteron bebas dapat masuk ke dalam sel prostat dengan
menembus membran sel ke dalam sitoplasma sel prostat sehingga membentuk DHT
heseplar kompleks yang akan mempengaruhi asam RNA yang menyebabkan terjadinya
sintyesis protein sehingga dapat terjadi profilikasi sel
3. Faktor
resiko
Pada umumnya terjadi pada pria yang berusia di atas 50 tahun dan mencapai
puncak pada usia 80 tahun dan jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun.
4. Manifestasi klinik
Terbagi 4 grade yaitu
1. Pada grade I ( Congstic )
a. Mula-mula pasien berbula-bulan atau bertahun-tahun susah kencing dan mulai
mengedan.
b. Kalau miksi merasa puas.
c. Urine keluar menetes dan puncuran lemah.
d. Nuctruria.
e. Urine keluar pada malam hari lebih dari normal.
f. Ereksi lebih lama dari normal dan libida lebih dari normal.
g. Pada Citoscopy kelihatan hiperemia dan orifreum urether internal lambat laun
terjadi varises akhirnya bisa terjadi pendarahan (blooding).
2. Pada Grade 2 (residual)
a. bila miksi terasa panas
b. nisoria nocturi bertambah berat
c. tidak dapat buang air kecil ( kencing tidak puas )
d. Bisa terjadi infeksi karena sisa air kencing
e. Tejadi panas tinggi dan bisa meninggal
f. Nyeri pad daerah pinggang dan menjalar keginjal.
3. Pada grade 3 ( retensi urine )
a. Ischuria paradorsal
b. Incontinential paradorsal
4. Pada grade 4
a. Kandung kemih penuh.
b. Penderita merasa kesakitan.
c. Air kencing menetes secara periodik yang disebut overflow incontinential.
d. Pada pemeriksaan fisik yaitu palpasi abdomen bawah untuk meraba ada tumor
kerena bendungan hebat.
e. Dengan adanya infeksi penderita bisa meninggal dan panas tinggi sekitar
40-41 .
f. Kesadaran bisa menurun.
g. Selanjutnya penderita bisa koma
5.Nyeri
perineum
6. Obstruksi rektal
7. Gangguan saraf akibat fraktur atau penekanan patalogis pada tulang belakang
5.
Patofisiologi
Biasanya ditemukan
gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Adanya obstruksi jalan kemih berarti
penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada
akhir miksi, pancaran miksi menjadi melemah, dan rasa belum puas selesai miksi.
Gejala iritasi disebabkan oleh hipersentivitas otot detrusor, berarti
bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala
obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau
gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi
terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran
prostat menyebabkan rangsangan pada kandung kemih, sehingga vesica sering
berkontraksi meskipun belum penuh. Keadaan ini membuat sistem scoring untuk
menentukan beratnya keluhan klinik penderita hipertropi prostat.
Apabila vesica menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sehingga pada
akhir miksi masih ditemukan sisa urine di dalam kandung kemih dan timbul rasa
tidak tuntas pada akhir miksi.
Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total,
sehingga penderita tidak mampu lagi miksi karena produksi urine terus terjadi
maka pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menahan urine, sehingga tekanan
vesika terus meningakat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi dari pada
tekanan spincter dan obstruksi, akan terjadi Inkotinensia Paradoks Retensi
kronik menyebabkan refluks vesicoureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal
ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila ada infeksi.
Pada waktu miksi penderita harus selalu mengedan sehingga lama kelamaan
menyebabkan hernia atau haemorhoid. Karena selalu terdapat sisa urine dapat
terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan
iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan
cystitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pyelonefritis.
Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu (a) rectal grading
(b) clinical grading dan (c) intra urethra grading.
Rectal grading
Recthal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong.
Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan
rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen
dan rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade
sebagai berikut :
0 – 1 cm……….: Grade 0
1 – 2 cm……….: Grade 1
2 – 3 cm……….: Grade 2
3 – 4 cm……….: Grade 3
Lebih 4 cm…….: Grade 4
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena
benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal grading maka
didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga penting untuk menentukan
macam tindakan operasi yang akan dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi
yang baik adalah T.U.R (Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali
(grade 3-4) dapat dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical.
Clinical grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine.
Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh
kemih sampai selesai, kemudian dimasukkan catheter ke dalam kandung kemih untuk
mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc……………….…… Normal
Sisa urine 0 – 50 cc…………….… Grade 1
Sisa urine 50 – 150 cc……………. Grade 2
Sisa urine >150 cc………………… Grade 3
Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4
Intra urethra grading
Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.
Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan sudah menjadi bidang
dari urology yang spesifik
Efek yang dapat terjadi akibat hypertropi prostat:
Terhadap urethra
Bila lobus medius membesar, biasanya arah ke atas mengakibatkan urethra pars
prostatika bertambah panjang, dan oleh karena fiksasi ductus ejaculatorius maka
perpanjangan akan berputar dan mengakibatkan sumbatan.
Terhadap vesica
urinaria
Pada vesica urinaria akan didapatkan hypertropi otot sebagai akibat dari proses
kompensasi, dimana muscle fibro menebal ini didapatkan bagian yang mengalami
depresi (lekukan) yang disebut potensial divertikula.
Pada proses yang lebih lama akan terjadi dekompensasi dari pada otot-otot yang
hypertropi dan akibatnya terjadi atonia (tidak ada kekuatan) dari pada
otot-otot tersebut.
Kalau pembesaran terjadi pada medial lobus, ini akan membentuk suatu post
prostatika pouch, ini adalah kantong yang terdapat pada kandung kemih
dibelakang medial lobe.
Post prostatika adalah sebagai sumber dari terbentuknya residual urine (urine
yang tersisa) dan pada post prostatika pouch ini juga selalu didapati adanya
batu-batu di kandung kemih.
Terhadap ureter dan ginjal
Kalau keadaan urethra vesica valve baik, maka tekanan ke ekstra vesikel tidak
diteruskan ke atas, tetapi bila valve ini rusak maka tekanan diteruskan ke
atas, akibatnya otot-otot calyces, pelvis, ureter sendiri mengalami hipertropy
dan akan mengakibatkan hidronefrosis dan akibat lanjut uremia.
Terhadap sex organ
Mula-mula libido meningkat, teatapi akhirnya libido menurun.
6.
Komplikasi
1. Pendarahan
2. Incontinential.
3. Batu kandung kemih
4. Retensi urine
5. Impotensi
6. Epidemis.
7. Haemoroid,hernia,prolaps,rektum akibat mengedan
8. Infeksi saluran kencing di sebabkan karena kateteriasasi
9. Hidronefrosis
7.
penatalaksanaan
a. pembesaran prostat derajat sedang dapat tidak diterapi atau diterapi dengan
obat obat yang memperkecil ukuran prostat atau melemahkan otot otot kandung
kemih hal ini dapat memperbaiki aliran urine.
b. Mungkin diperlukan tindakan bedah untuk mengangkat jaringan hiperplastik
agar urine dapat lewat secara adekuat.
c. Mungkin dapat dipasang kateter permanen pada orang yang tidak ingin atau
tidak dapat dioperasi .
d. Dianjurkan pemeriksaan rektum dengan jari setiap tahun dan pemeiksaan
antigen spesifik prostat (prostate spesifik antigen PSA). Untuk
mengidentifikasi keganasan yang dapat muncul dan sel sel hiperplastik.
8.
Diagnostik test
Diagnosa klinik
pembesaran prostat dapat ditegakkan dengan pemeriksaan sebagai berikut :
a.anamnase
baik
b. Pemeriksaan fisik
Dapat dilakukan dengan pemeriksaan rectal toucher, dimana pada pembesaran
prostat jinak akan teraba adanya massa pada dining depan rectum yang
konsistensinya kenyal, yang kalau belum terlalu besar masih dapat dicapai batas
atasnya dengan ujung jari, sedang apabila batas atasnya sudah tidak teraba
biasanya jaringan prostat sudah lebih dari 60 gr.
c. Pemeriksaan sisa kemih
d. Pemeriksaan ultra sonografi (USG)
Dapat dilakukan dari supra pubic atau transrectal (Trans Rectal Ultra Sonografi
:TRUS). Untuk keperluan klinik supra pubic cukup untuk memperkirakan besar dan
anatomi prostat, sedangkan TRUS biasanya diperlukan untuk mendeteksi keganasan.
e. Pemeriksaan endoskopy
Bila pada pemeriksaan rectal toucher, tidak terlalu menonjol tetapi gejala
prostatismus sangat jelas atau untuk mengetahui besarnya prostat yang menonjol
ke dalam lumen.
f. Pemeriksaan radiologi
Dengan pemeriksaan radiology seperti foto polos perut dan pyelografi intra vena
yang sering disebut IVP (Intra Venous Pyelografi) dan BNO (Buich Nier
Oversich). Pada pemeriksaan lain pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi
defek irisan kontras pada dasar kandung kemih dan ujung distal ureter membelok
ke atas berbentuk seperti mata kail/pancing (fisa hook appearance).
g. Pemeriksaan CT- Scan dan MRI
Computed Tomography Scanning (CT-Scan) dapat memberikan gambaran adanya
pembesaran prostat, sedangkan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat memberikan
gambaran prostat pada bidang transversal maupun sagital pada berbagai bidang
irisan, namun pameriksaan ini jarang dilakukan karena mahal biayanya.
h. Pemeriksaan sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan
urine ditemukan mikrohematuria. pemeriksaan ini dapat memberi gambaran
kemungkinan tumor di dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas
apabila darah datang dari muara ureter atau batu radiolusen di dalam vesica.
Selain itu sistoscopi dapat juga memberi keterangan mengenai besar prostat
dengan mengukur panjang urethra pars prostatica dan melihat penonjolan prostat
ke dalam urethra.
i. Pemeriksaan lain
Secara spesifik untuk pemeriksaan pembesaran prostat jinak belum ada, yang ada
ialah pemeriksaan penanda adanya tumor untuk karsinoma prostat yaitu
pemeriksaan Prostatic Spesifik Antigen (PSA), angka penggal PSA ialah 4
nanogram/ml.
11. Diagnosa banding
Oleh karena adanya proses miksi
tergantung pada kekuatan kontraksi detrusor, elastisitas leher kandung kemih
dengan tonus ototnya dan resistensi urethra yang merupakan faktor dalam
kesulitan miksi. Kelemahan detrusor disebabkan oleh kelainan saraf (kandung
kemih neurologik) misalnya : Lesi medulla spinalis, penggunaan obat penenang.
Kekakuan leher vesica disebabkan oleh proses fibrosis, sedangkan resistensi
urethra disebabkan oleh pembesaran prostat jinak atau ganas, tumor di leher
kandung kemih, batu di urethra atau striktur urethra.
12. Pengobatan
Setiap kesulitan
miksi yang diakibatkan dari salah satu faktor seperti berkurangnya kekuatan
kontraksi detrusor atau menurunya elastisitas leher vesica, maka tindakan
pengobatan ditujukan untuk mengurangi volume prostat, mengurangi tonus leher
vesica atau membuka urethra pars prostatica dan menambah kekuatan kontraksi
detrusor agar proses miksi menjadi mudah.
Pengobatan untuk
hipertropy prostat ada 2 macam :
a.Konsevatif
b.Operatif
Dalam pengobatan ini
dilakukan berdasarkan pembagian besarnya prostat, yaitu derajat 1 – 4.
a.Derajat I
Dilakukan pengobatan koservatif, misalnya dengan fazosin, prazoin dan terazoin
(untuk relaksasi otot polos).
b.Derajat II
Indikasi untuk pembedahan. Biasanya dianjurkan resekesi endoskopik melalui
urethra.
c.Derajat III
Diperkirakan prostat cukup besar dan untuk tindakan yang dilakukan yaitu
pembedahan terbuka melalui transvesical, retropubic atau perianal.
d.Derajat IV
Membebaskan penderita dari retensi urine total dengan memasang catheter, untuk
pemeriksaan lebih lanjut dalam pelaksanaan rencana pembedahan.
Konservatif.
Pengobatan
konservatif ini bertujuan untuk memperlambat pertumbuhan pembesaran prostat.
Tindakan dilakukan bila terapi operasi tidak dapat dilakukan, misalnya :
menolak operasi atau adanya kontra indikasi untuk operasi.
Tindakan terapi
konservatif yaitu :
a.Mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena adanya infeksi
sekunder dengan pemberian antibiotika.
b.Bila retensi urine dilakukan catheterisasi.
Operatif
Pembedahan merupakan pengobatan utama pada hipertropi prostat benigna (BPH),
pada waktu pembedahan kelenjar prostat diangkat utuh dan jaringan soft tissue
yang mengalami pembesaran diangkat melalui 4 cara yaitu (a) transurethral (b)
suprapubic (c) retropubic dan (d) perineal.
Transurethral.
Dilaksanakan bila pembesaran terjadi pada lobus medial yang langsung
mengelilingi urethra. Jaringan yang direseksi hanya sedikit sehingga tidak
terjadi perdarahan dan waktu pembedahan tidak terlalu lama. Rectoscope
disambungkan dengan arus listrik lalu di masukkan ke dalam urethra.Kandung
kemih di bilas terus menerus selama prosedur berjalan.Pasien mendapat alat
untuk masa terhadap shock listrik dengan lempeng logam yang di beri pelumas di
tempatkan pada bawah paha.Kepingan jaringan yang halus di buang dengan irisan
dan tempat-tempat perdarahan di tutup dengan cauter.
Setelah TURP di pasang catheter Foley tiga saluran yang di lengkapi balon 30
ml.Setelah balon catheter di kembangkan, catheter di tarik ke bawah sehingga
balon berada pada fosa prostat yang bekerja sebagai hemostat.Ukuran catheter
yang besar di pasang untuk memperlancar pengeluaran gumpalan darah dari kandung
kemih.
Kandung kemih diirigasi terus dengan alat tetesan tiga jalur dengan garam
fisiologisatau larutan lain yang di pakai oleh ahli bedah.Tujuan dari irigasi
konstan ialah untuk membebaskan kandung kemih dari ekuan darah yang menyumbat
aliran kemih.Irigasi kandung kemih yang konstan di hentikan setelah 24 jam bila
tidak keluar bekuan dari kandung kemih.Kemudian catheter bisa dibilas biasa
tiap 4 jam sekali sampai catheter di angkat biasanya 3 sampai 5 hari setelah
operasi.Setelah catheter di angkat pasien harus mengukur jumlah urine dan waktu
tiap kali berkemih.
Suprapubic
Prostatectomy.
Metode operasi terbuka, reseksi supra pubic kelenjar prostat diangkat dari
urethra lewat kandung kemih.
Retropubic
Prostatectomy
Pada prostatectomy retropubic dibuat insisi pada abdominal bawah tapi kandung
kemih tidak dibuka.
Perianal
prostatectomy.
Dilakukan pada dugaan kanker prostat, insisi dibuat diantara scrotum dan rectum
13. Diagnosa
keperawatan.,intervensi dan rasional
NDX 1 :
Gangguan eliminasi retensi berhubungan dengan abstruksi mekanik,pembesaran
prostat,dekonpensasi otot destrossor.
Tujuan :
- berkemih dengan jumlah yang cukup tak teraba disertai kandung kemih.
- Menunjukkan residu pasca berkemih kurang dari 50 ml dengan tak adanya
tetesan/kelebihan aliran.
Intervensi
1. Dorong klien untuk berkemih tiap 2 sampai 4 jam.
Rasional : meminimalkan retensi urine berlebihan pada kandung kemih.
2. Observasi aliran urine . Perhatikan ukuran dari kekuatan
Rasional: berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan piulihan intervensi
3. Awasi dan catat waktu,jumlah tiap berkemih.
Perhatikan penurunan pengeluaran urine dan perubahan berat jenis .
Rasional: retensi urinr meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan bagian
atas yang dapat mempengaruhi ginjal.
4. Anjurkan untuk minum air 3000 ml/hari
Rasional: peningkatan aliran cairan mempertahankan perfusi ginjal dan
membersihkan ginjal, kandung kemih dari pertumbuhan bakteri.
5. lakukan kateterisasi dan perawatan parianal
Rsaional: menurunkan resiko infeksi asendens
6. Kolaborasi pemberian
Obat anti spasmodikv
Sipasitoria rektalv
Antibiotikv
NDX 2
Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih,kolik
ginjal,infeksi urinaria.
Tujuan :
- Melaporkan nyeri hilang / terkontrol
- Tampak rileks.
- Mampu untuk tidur/istirahat dengan tepat
Intervensi
1. Kaji tingkat nyeri
Rasional: memberi informasi dalam keefektifan intervensi
2. Plester selang drainase pada paha dan keteter pada abdomen
Rasional: mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis skrotal.
3. Pertahankan tirah baring
Rasional: mungkin diperlukan pada awal retensi akut namun ambulasi dini dapat
memperbaiki pola berkemih normal.
NDX 3
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan drainase kandung kemih yang
terlalu distensi secara kronik.
Tujuan :
- mempertahankan hidrasi adekauat dibuktikan oleh tanda vitat stabil,nadi
perifer teraba,pengisian kapiler baik membran mukosa lembab
Intervensi
1. Awasi output cairan tiap jam dan catat pengeluaran urine
Rasional: Diuresis cepat dapat mengakibatkan kekurangan volume total cairan
karena tidak cukupnya jumlah natrium diabsorpsi dalam tubulus ginjal.
2. Anjurkan infek oral berdasarkan kebutuhan individu
Rasional: hemostatis, pengurangan cadangan dan peningkatan resiko dehidrasi
hipopolemik
3. Awasi tekanan darah dan nadi obserfasi pengisian kafiler dan membran mukosa
oral.
Rasional : deteksi dini adanya hipopolemik sistem
4. Kolaborasi
Pemberian cairan IV ( menggantikan cairan dan natrium yang hilang untuk
mencegah / memperbaiki hipopolemik.
NDX 4
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan kemungkinan prosedur
bedah.
Tujuan:
- Tampak rileks
- Melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani
- Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi
Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya pada pasien atau keluarganya selalu ada di
dekat pasien.
Rasional: menunjukkan perhatian dan keinginan untuk membantu
2. Berikan informasi tentang prosedur dan tes khusus dan apa yang akan terjadi
contoh; kateter urine berdarah
Rasional: membantu pasien maemahami tujuan dari apa yang dilakukan dan
mengurangi masalah kesehatan karena ketidaktahuan termasuk ketakutan akan kanker
3. Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah
Rasional: mendefenisikan masalah memberikan kesempatan untuk menjawab
pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah.
NDX 5
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
pengobatan.
Tujuan:
- menyatakan pemahaman proses penyakit.
- Berpartisipasi dalam proses pengobatan
Intervensi
1. kaji ulang proses penyakitb pengalaman pasien
Rasional: memberikan dasar pengetahuan di mana pasien dapat membuat pilihan
informasi terapi.
2. Dorong menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian.
Rasional: membantu pasien mengalami perasaan dapat merupakan rehabilitasi
vital.
DAFTAR
PUSTAKA
1.Basuki B Purnomo, 2000, Dasar-Dasar
Urologi, Perpustakaan Nasional RI, Katalog Dalam Terbitan (KTD), Jakarta.
2.Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan – Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih Bahasa : I Made
Kariasa, Ni Made Sumarwati, Editor : Monica Ester, Yasmin Asih, Edisi : Ketiga,
EGC ; Jakarta,.
3.Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Editor, Irawati. S,
Edisi : 9, EGC ; Jakarta.
4.Kumpulan Kuliah, 2001, Modul Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Perkemihan, Makassar.
5.Long, Barbara C, 1996, Keperawatan
Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, Edisi I, Volume 3, Yayasan
IAPK Padjajaran, Bandung.
6.Schwartz, dkk, 2000, Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Editor : G. Tom
Shires dkk, EGC ; Jakarta.
7.Jong, Wim de, dan Syamsuhidayat R, 1998, Buku Ajar Ilmu Bedah, Editor : R.
Syamsuhidajat, Wim De Jong, Edisi revisi : EGC ; Jakarta.